Perbedaan Hasil Quick Count dan Perhitungan KPU Pilgub Jawa Timur: Perlukah masuk MURI?

Tulisan ini diilhami oleh berita yang saya baca di salah satu situs berita yang menyebutkan pendapat atau sindiran salah satu petinggi partai untuk memberikan penghargaan MURI atas melesetnya dugaan tiga buah hasil quick count lembaga survey terhadap hasil Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang diumumkan kemarin (11 Nov 2008).  Hitung cepat atau quick count yang umumnya mampu dengan tepat menduga pemenang Pilkada, kali ini tidak terjadi.  Lebih-lebih, tiga lembaga survei yang menyatakan independen gagal memberikan urutan yang tepat.  Meskipun secara tegas mereka tidak menyebutkan siapa yang diduga menjadi pemenang karena selisih yang tipis, tapi tetap ada pertanyaan kenapa tiga-tiganya gagal.

 

Bagi saya pribadi, MURI sebaiknya diberikan kepada individu, kelompok atau organisasi tertentu yang yang memiliki prestasi luar biasa.  Pengertian luar biasa adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan atau sesuatu yang tidak mudah terjadi.  Dalam bahasa matematika dan statistika, luar biasa adalah sesuatu yang peluang terjadinya kecil.

 

Dengan demikian, untuk melihat apakah kejadian melesetnya hasil dari tiga lembaga survei seyogyanya mendapatkan MURI, bisa kita cermati dari peluang kejadiannya.  Jika peluang meleset besar, MURI belum pantas mengeluarkan penghargaan untuk hal ini.

 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur sudah mengumumkan bahwa pada hasil akhir Pemilihan Gubernur Jawa Timur adalah KAJI (Khofifah-Mudjiono)  49.80% dan KARSA (Soekarwo-Saifullah Yusuf)  50.20%.

 

Sementara dari penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), pasangan
KAJI memperoleh suara sebanyak 50.44% persen, dan KARSA mendapat 49.56%.  Lingkaran Survei Indonesia  melaporkan bahwa dari 400 TPS di seluruh Jatim, KAJI meraup 50.% dan KARSA meraih 49.24% persen.  Sedangkan Lembaga Survei Nasional (LSN) menyatakan pasangan KAJI memperoleh 50.71% persen, dan KARSA memperoleh 49.29%.  Ketiganya menempatkan pasangan KAJI sedikit lebih unggul dibandingkan pasangan KARSA.

 

Menganggap bahwa hitungan KPU sebagai suatu kebenaran, kita dapat menghitung berapa peluang suatu proses hitung cepat memberikan hasil yang berbeda.  Beberapa asumsi yang saya gunakan untuk menghitung adalah yang pertama bahwa setiap TPS melayani 350 pemilih.  Dengan dugaan partisipasi sebesar 53.5% (www.lsi.co.id) maka jumlah suara per TPS adalah 187 suara.  Juga diasumsikan jumlah TPS tersurvei dalam hitung cepat sebanyak 400 unit, sehingga jumlah suara total dalam hitung cepat adalah 74800 suara.  Tentu saja ada tambahan asumsi statistik yaitu bahwa pilihan antar pemilih saling bebas.

 

Berdasarkan asumsi di atas maka peluang suatu hasil hitung cepat memenangkan KAJI dapat dihitung menggunakan konsep distribusi binomial dengan parameter n=74800  p=50.20% (proporsi suara KARSA hasil perhitungan KPU).  Secara matematis dapat dikatakan bahwa peluang pasangan KAJI menang, sama dengan peluang suara pasangan KARSA kurang dari 50% suara atau 37400 suara dalam hitung cepat.

 

Hitungan di atas menghasilkan angka 0.138 atau 13.8%.   Artinya, dengan sampel sebanyak 400 TPS, besarnya kemungkinan suatu hitung cepat memenangkan KAJI adalah 13.8%.  Angka itu merupakan besarnya kemungkinan hitung cepat salah dalam menduga pemenang Pilgub Jatim.  Sehingga saya berpendapat bahwa dalam kasus ini, kemungkinan terjadinya melesetnya hasil dugaan oleh suatu lembaga survei dalam kasus di Jatim memang besar.

 

Tetapi bagaimana jika ada tiga lembaga meleset semua?  Dengan mengasumsikan bahwa ketiganya melakukan secara independen, peluang meleset secara bersamaan adalah 0.138 pangkat 3, atau sebesar 0.26%.  Kejadian tiga lembaga meleset secara bersamaan terjadi 2-3 kali dalam 1000 pilkada.  Kalau saya yang punya MURI, belum waktunya penghargaan itu keluar.  Ini masih belum terlalu luar biasa. (bagus sartono — departemen statistika IPB)

Advertisements

2 responses to “Perbedaan Hasil Quick Count dan Perhitungan KPU Pilgub Jawa Timur: Perlukah masuk MURI?

  1. kenapa sih anggaran untuk pemilihan pilkada putaran ke3 gak digunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran rakyat jatim aja.

    masih banyak hal yang lebih penting untuk diselesaikan bukan hanya sekedar pemilihan tsb misalnya aja masalah minyak tanah, orang miskin, penganguran, buruh, pendidikan dll.

    seharusnya mereka orang2 yang bersangkutan lebih sportif menerima hasil tsb. toh tetap aja hasilnya sama.

    saya bukan pengamat politik , saya hanya orang biasa tetapi lelah mendengar dan menyaksikan orang2 politik lebih mengutamakan hal yang tidak penting.

    Orang luar saja menyindir indonesia kaya dengan mengadakan pemilihan umum ( gubernur ) sampai 3x. Indonesia bukan hanya butuh orang yang pandai , berwibawa, tegas, low-profile, tetapi orang yang sportif juga. tolong lebih mengerti kondisi rakyat

  2. Kejadian yang sama baru2 ini terjadi di PILKADA SULAWESI SELATAN.. tiga lembaga survey semuanya salah dalam memprediksi pemenang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s