Selang Kepercayaan (Bagian 1)

Bahasa Inggris-nya: confidence interval.  Dalam bidang pendugaan secara statistika, istilah ini tentu sangat populer.  Sayangnya tidak semua pengguna statistika ingat untuk mencantumkan SK dipublikasinya supaya orang lebih memahami angka hasil dugaannya.

 

Apa sebenarnya SK?  Tapi di bagian ini saya akan menceritakan dulu dua jenis pendugaan, bagian kedua nanti kita akan diskusi lebih banyak tentang SK. 

 

Sebelumnya saya akan perkenalkan kembali beberapa istilah dasar di statistika.  Kalau kita punya data sampel, maka tujuan utama yang biasa dilakukan, apapun analisisnya, adalah menduga parameter populasi.  Misal, temen2 di marketing research ngumpulin data responden untuk menduga berapa persen pengguna sabun merek tertentu.  Angka berapa persen market share yang ingin diketahui itu parameter.  Nah, sementara angka berapa persen yang didapat dari hasil survey itu adalah statistik.  Yang terakhir itu (statistik) yang kita tahu, yang pertama (parameter) kita gak tahu.  Itu kenapa statistik tidak lain adalah penduga bagi parameter.

 

Yang menjadi persoalan adalah, angka dugaan kita bisa berbeda-beda tergantung pada data sampel yang kita miliki.  Kalau saya bertanya kepada 500 orang hari ini tentang siapa yang bakal mereka pilih jadi bupati, dan seseorang lain juga melakukan hal yang sama pada 500 orang lain, maka dapat dipastikan angka berapa persen yang memilih calon nomor satu akan berbeda nilainya.  Kalau yang melakukan survey ada 10 orang atau lembaga, maka akan diperoleh 10 angka dugaan yang berbeda-beda.

 

Dan yang lebih menarik lagi adalah, 10 angka dugaan yang dihasilkan dapat dipastikan tidak sama persis dengan angka parameter yang sebenarnya.  Coba saja bandingkan angka dugaan hasil quickcount dengan hasil perhitungan KPU.  Gak ada yang sama persis.  Ada yang bedanya sedikit, ada yang bedanya lumayan jauh.

 

Dalam konsep pendugaan, ada istilah point estimation (pendugaan titik) dan interval estimation (pendugaan selang).  Menduga dengan satu titik berarti menduga dengan hanya satu angka.  Dan sekali lagi, untuk kasus ini hampir dapat dipastikan dugaannya salah karena hampir mustahil dapat menduga angka parameter dengan tepat.  Kemudian dikenal pendugaan selang yang berupa selang nilai.  Bukan menduga bahwa market share produk tertentu sebesar 30%, tapi menyatakan dalam bentuk 28% – 32%.  Kalau ternyata angka pastinya adalah 31%, maka dugaan titik yang 30% itu salah, sedangkan kalau pakai selang jadi benar.

 

Sama saja kalau kita diminta menduga umur seseorang mahasiswa.  Kita nebak 19 tahun, dan padahal umurnya 18 tahun, maka tebakan kita salah.  Tapi kalau kita bilang, “ya… sekitar 17-20 tahun deh”, maka tebakan kita benar.

 

Singkat kata, menduga atau menebak pakai selang memiliki kemungkinan benar lebih besar daripada menduga hanya menggunakan satu angka.  Kalau untuk kasus umur mahasiswa tadi, tentu tebakan kita akan benar kalau bilang, “Umurmu pasti antara 10 – 40 tahun”.  Iya kan…

 

Meskipun dugaan itu benar, dengan cara memperlebar selang, tapi tidak banyak gunanya.  Tidak ada gunanya kalau kita cerita ke ibu kita, terus kita bilang: “Bu, tadi aku ketemu cewek, umurnya kira-kira 10-40 tahun.”  Si ibu pasti mikir, anakku kenapa.

 

Konsep selang kepercayaan akan saya lanjutkan di bagian berikutnya.

Advertisements

One response to “Selang Kepercayaan (Bagian 1)

  1. thanks pencerahannya. bahasanya mudah dimengerti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s