sekedar pet crepet

Entries categorized as ‘data and facts’

Perbedaan Hasil Quick Count dan Perhitungan KPU Pilgub Jawa Timur: Perlukah masuk MURI?

November 17, 2008 · 1 Comment

Tulisan ini diilhami oleh berita yang saya baca di salah satu situs berita yang menyebutkan pendapat atau sindiran salah satu petinggi partai untuk memberikan penghargaan MURI atas melesetnya dugaan tiga buah hasil quick count lembaga survey terhadap hasil Pemilihan Gubernur Jawa Timur yang diumumkan kemarin (11 Nov 2008).  Hitung cepat atau quick count yang umumnya mampu dengan tepat menduga pemenang Pilkada, kali ini tidak terjadi.  Lebih-lebih, tiga lembaga survei yang menyatakan independen gagal memberikan urutan yang tepat.  Meskipun secara tegas mereka tidak menyebutkan siapa yang diduga menjadi pemenang karena selisih yang tipis, tapi tetap ada pertanyaan kenapa tiga-tiganya gagal.

 

Bagi saya pribadi, MURI sebaiknya diberikan kepada individu, kelompok atau organisasi tertentu yang yang memiliki prestasi luar biasa.  Pengertian luar biasa adalah sesuatu yang tidak mudah dilakukan atau sesuatu yang tidak mudah terjadi.  Dalam bahasa matematika dan statistika, luar biasa adalah sesuatu yang peluang terjadinya kecil.

 

Dengan demikian, untuk melihat apakah kejadian melesetnya hasil dari tiga lembaga survei seyogyanya mendapatkan MURI, bisa kita cermati dari peluang kejadiannya.  Jika peluang meleset besar, MURI belum pantas mengeluarkan penghargaan untuk hal ini.

 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur sudah mengumumkan bahwa pada hasil akhir Pemilihan Gubernur Jawa Timur adalah KAJI (Khofifah-Mudjiono)  49.80% dan KARSA (Soekarwo-Saifullah Yusuf)  50.20%.

 

Sementara dari penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), pasangan
KAJI memperoleh suara sebanyak 50.44% persen, dan KARSA mendapat 49.56%.  Lingkaran Survei Indonesia  melaporkan bahwa dari 400 TPS di seluruh Jatim, KAJI meraup 50.% dan KARSA meraih 49.24% persen.  Sedangkan Lembaga Survei Nasional (LSN) menyatakan pasangan KAJI memperoleh 50.71% persen, dan KARSA memperoleh 49.29%.  Ketiganya menempatkan pasangan KAJI sedikit lebih unggul dibandingkan pasangan KARSA.

 

Menganggap bahwa hitungan KPU sebagai suatu kebenaran, kita dapat menghitung berapa peluang suatu proses hitung cepat memberikan hasil yang berbeda.  Beberapa asumsi yang saya gunakan untuk menghitung adalah yang pertama bahwa setiap TPS melayani 350 pemilih.  Dengan dugaan partisipasi sebesar 53.5% (www.lsi.co.id) maka jumlah suara per TPS adalah 187 suara.  Juga diasumsikan jumlah TPS tersurvei dalam hitung cepat sebanyak 400 unit, sehingga jumlah suara total dalam hitung cepat adalah 74800 suara.  Tentu saja ada tambahan asumsi statistik yaitu bahwa pilihan antar pemilih saling bebas.

 

Berdasarkan asumsi di atas maka peluang suatu hasil hitung cepat memenangkan KAJI dapat dihitung menggunakan konsep distribusi binomial dengan parameter n=74800  p=50.20% (proporsi suara KARSA hasil perhitungan KPU).  Secara matematis dapat dikatakan bahwa peluang pasangan KAJI menang, sama dengan peluang suara pasangan KARSA kurang dari 50% suara atau 37400 suara dalam hitung cepat.

 

Hitungan di atas menghasilkan angka 0.138 atau 13.8%.   Artinya, dengan sampel sebanyak 400 TPS, besarnya kemungkinan suatu hitung cepat memenangkan KAJI adalah 13.8%.  Angka itu merupakan besarnya kemungkinan hitung cepat salah dalam menduga pemenang Pilgub Jatim.  Sehingga saya berpendapat bahwa dalam kasus ini, kemungkinan terjadinya melesetnya hasil dugaan oleh suatu lembaga survei dalam kasus di Jatim memang besar.

 

Tetapi bagaimana jika ada tiga lembaga meleset semua?  Dengan mengasumsikan bahwa ketiganya melakukan secara independen, peluang meleset secara bersamaan adalah 0.138 pangkat 3, atau sebesar 0.26%.  Kejadian tiga lembaga meleset secara bersamaan terjadi 2-3 kali dalam 1000 pilkada.  Kalau saya yang punya MURI, belum waktunya penghargaan itu keluar.  Ini masih belum terlalu luar biasa. (bagus sartono — departemen statistika IPB)

Categories: data and facts · statistika
Tagged:

Enaknya berapa kamar?

October 28, 2008 · 4 Comments

Ini tentang kamar tidur, bukan kamar lain seperti kamar mandi, kamar belajar, kamar bermain, atau yang lainnnya.  Dengan budget tertentu seseorang bisa dengan leluasa memilih rumah dengan jumlah kamar yang dia sukai.  Sementara dengan budget yang terbatas, tipe 21 hingga 36 dengan hanya 1 atau 2 kamar tidur barangkali hanya satu-satunya pilihan.  Tapi, tampaknya tidak hanya budget yang perlu kita pertimbangkan untuk memilih kamar.  Pertimbangan lain adalah berapa banyak yang anak yang ingin kita miliki.

Grafik berikut saya olah dari data yang saya copy dari www.nationmaster.com.  Grafik yang memperlihatkan hubungan antara rata-rata banyaknya orang di setiap kamar tidur dengan prediksi tingkat pertumbuhan penduduk dari berbagai negara.  Korelasinya cukup besar, yaitu 0.59 untuk Pearson Corr dan 0.56 untuk Spearman Corr Coef.  Negara dengan kamar tidur yang banyak penghuninya, cenderung tinggi tingkat pertumbuhan penduduknya.

Tentu ini tidak selalu bicara sebab akibat.  Bisa didebat, apakah gara-gara satu kamar banyak orang jadi banyak yang hamil terus pertumbuhan penduduk tinggi.  Ataukah karena pertumbuhannya tinggi, makanya satu kamar terpaksa diisi banyak orang.  Namun karena data jumlah orang per kamar adalah data tahun kemarin, sedangkan pertumbuhan itu proyeksi ke tahun 2050, pendapat pertama mungkin masuk akal.

Yang menarik lain dari gambar ini adalah:

  • di beberapa negara, meskipun satu kamar rata-rata penghuninya gak sampai 1 orang, tapi pertumbuhan penduduknya ada yang tinggi.  Negara itu adalah AMERIKA, BRAZIL, CANADA, NEW ZEALAND.  Kenapa nih…
  • yang paling tinggi pertumbuhannya, adalah yang satu kamar berisi 1.5 sampai 2 orang, ya.. 2 orang lah.  Mungkin karena gak ada yang ganggu, jadi gampang buat anak.
  • meskipun tidak terlihat jelas, untuk kamar dengan lebih dari 2 orang, ada tren pertumbuhan penduduknya turun.  Gangguan mulai ada.

Tambahnya program pemerintah membangun RSS dengan tipe kecil, bisa dijadikan sarana tak langsung untuk menekan pertumbuhan jumlah penduduk.  Siapa tahu…

Categories: data and facts
Tagged: ,

Banyak Pemilu, Banyak Kecelakaan

October 26, 2008 · 1 Comment

There were 3,417 total deaths, including 1,265 on election days. The Election Day average was 158, versus 134 on the other Tuesdays. The crashes involved drivers, passengers and pedestrians. (http://health.yahoo.com/news/ap/med_deadly_voting.html)

Paragrap di atas ini saya kutip dari salah satu artikel di Yahoo!Health. Kreatif juga studinya.
Bagi yang malas baca artikelnya, kira-kira rangkuman ceritanya begini (mudah2an tidak salah memahami). Pemungutan suara di Amerika setiap empat tahun sekali diadakan di hari Selasa. Bukan hari libur. Biasanya hanya sekolah saja yang diliburkan, itupun tidak semua sekolah. Yang menarik dari data yang ditampilkan di atas adalah, rata-rata angka kematian kecelakaan lalulintas di hari pemungutan suara lebih tinggi dibandingkan angka kematian karena kecelakaan pada hari-hari Selasa lainnya.

Nah… jadi ada kemungkinan kecelakaan dan pemungutan suara ada hubungannya. Beberapa alasan yang dapat disebutkan oleh para peneliti (1) orang2 pada ngebut menuju TPS, mereka biasanya pergi sebelum jam kerja atau sesudah jam kerja, (2) biasanya TPS tidak selalu di lingkungan tempat tinggal, makanya mereka gak paham jalan menuju TPS, (3) mereka nyetir sambil mikir enaknya nyoblos siapa ya…

Ada-ada saja… Padahal Amerika kan udah maju, nyoblosnya online aja gitu. Internet based voting.
Untungnya di Indonesia di hari libur ya… dan gak jauh2 dari rumah hehe. Tapi sepertinya korban pemilu di Indonesia tidak pas hari pemungutan suara. Tapi pas kampanye terus berkelahi, sama pas kalah terus ngamuk.

Categories: data and facts

Berbahagialah wahai wanita Indonesia

October 15, 2008 · 3 Comments

Data ini saya dapatkan dari web-nya CIA. Ini data struktur usia penduduk Indonsia, estimasi Juli 2008.
0-14 years : 28.4% (male 34,343,198/female 33,175,135)
15-64 years : 65.7% (male 78,330,830/female 77,812,339)
65 years and over: 5.8% (male 6,151,305/female 7,699,548)

Yang mnarik adalah pada usia di bawah 65 tahun, penduduk laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan (50.4% lk dibanding 49.6% pr). Sedangkan di kelompok usia di atas 65 tahun, wanita yang lebih banyak (44.4% lk dibanding 55.6% pr).

Simak juga data sex ratio ini

at birth: 1.05 male(s)/female
under 15 years: 1.03 male(s)/female
15-64 years: 1.01 male(s)/female
65 years and over: 0.8 male(s)/female
total population: 1 male(s)/female (2008 est.)

Wanita Indonesia tampaknya lebih cenderung memiliki angka harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan kaum Adam. Berbahagialah…

Categories: data and facts
Tagged: